download video pengangkatan jenazah pahlawan revolusiTak Akan Melupakan Para Pahlawan[1]
(Pengangkatan Jenazah Pahlawan Revolusi)
Tak Akan Melupakan Para Pahl
Ketika saya kembali ke Kostrad dari istana Bogor, sudah tidak ada lagi persoalan merebut Halim dengan kekerasan. Untung sudah tidak ada di sana. D.N. Aidit sudah terbang ke Yogyakarta menggunakan Dakota AURI. Omar Dhani dan keluarganya diberi perlindungan oleh Presiden Soekarno di Istana Bogor.
Sarwo Edhie melaporkan waktu menyerang dan menduduki Halim, hanya ada sedikit pertempuran. Dari pihak kita hanya ada seorang yang gugur, dan dari pihak Angkatan Udara dua orang. Dalam pada itu suasan tegang yang diliputi pertanyaan mencekap adalah di mana adanya perwira-perwira kita yang di culik itu?. Sementara itu reaksi masyarakat terhadap “Gerakan 30 September” muncul secara spontan. “Badan Koordinasi Pengganyangan Kontra Revolusioner Gerakan 30 September” berdiri dengan pimpinannya antara lain Subchan ZE. Mereka menyerukan satu aksi bersama untuk menghancurkan Gestapu/PKI itu.
Di tengah suasana mencari para perwira yang diculik itu seorang Polri, Sukitman, yang ditawan oleh gerombolan G.30.S/PKI. Ia menceritakan pengalamannya. Ia ditawan oleh gerombolan yang melakukan penculikan di rumah Jenderal Pandjaitan dan dibawa ke Lubang Buaya. Ia di tempatkan di sebuah rumah, tetapi kemudian berhasil meloloskan diri. Berdasarkan petunjuk Sukitman itu kami ketahui, bahwa para perwira yang kami cari itu sudah dibunuh. Mayat mereka dimasukkan dalam sebuah sumur tua sudah kering.
Maka saya perintahkan untuk menemukan sumur itu dan menggalinya. Baru pada tanggal 4 Oktober penggalian dilakukan dengan bantuan dari anggota-anggota Kesatuan Inti Para Ampibi (Kipam) dari KKO-AL dengan menggunakan alat-alat seperti tabung zat asam. Untuk mendapatkan sumur yang dimaksud Sukitman memang memakan waktu.
Benar, jenazah para perwira itu kemudian ditemukan. Saya sendiri menyaksikan pengangkatan jenazah-jenazah itu yang terdapat di dalam sumur yang sudah mati, ditimbuni dengan sampah, daun singkong dan tanah secara berselang-seling. Amat memilukan! Amat menyedihkan!
Ketika saya kembali ke Kostrad dari istana Bogor, sudah tidak ada lagi persoalan merebut Halim dengan kekerasan. Untung sudah tidak ada di sana. D.N. Aidit sudah terbang ke Yogyakarta menggunakan Dakota AURI. Omar Dhani dan keluarganya diberi perlindungan oleh Presiden Soekarno di Istana Bogor.
Sarwo Edhie melaporkan waktu menyerang dan menduduki Halim, hanya ada sedikit pertempuran. Dari pihak kita hanya ada seorang yang gugur, dan dari pihak Angkatan Udara dua orang. Dalam pada itu suasan tegang yang diliputi pertanyaan mencekap adalah di mana adanya perwira-perwira kita yang di culik itu?. Sementara itu reaksi masyarakat terhadap “Gerakan 30 September” muncul secara spontan. “Badan Koordinasi Pengganyangan Kontra Revolusioner Gerakan 30 September” berdiri dengan pimpinannya antara lain Subchan ZE. Mereka menyerukan satu aksi bersama untuk menghancurkan Gestapu/PKI itu.
Di tengah suasana mencari para perwira yang diculik itu seorang Polri, Sukitman, yang ditawan oleh gerombolan G.30.S/PKI. Ia menceritakan pengalamannya. Ia ditawan oleh gerombolan yang melakukan penculikan di rumah Jenderal Pandjaitan dan dibawa ke Lubang Buaya. Ia di tempatkan di sebuah rumah, tetapi kemudian berhasil meloloskan diri. Berdasarkan petunjuk Sukitman itu kami ketahui, bahwa para perwira yang kami cari itu sudah dibunuh. Mayat mereka dimasukkan dalam sebuah sumur tua sudah kering.
Maka saya perintahkan untuk menemukan sumur itu dan menggalinya. Baru pada tanggal 4 Oktober penggalian dilakukan dengan bantuan dari anggota-anggota Kesatuan Inti Para Ampibi (Kipam) dari KKO-AL dengan menggunakan alat-alat seperti tabung zat asam. Untuk mendapatkan sumur yang dimaksud Sukitman memang memakan waktu.
Benar, jenazah para perwira itu kemudian ditemukan. Saya sendiri menyaksikan pengangkatan jenazah-jenazah itu yang terdapat di dalam sumur yang sudah mati, ditimbuni dengan sampah, daun singkong dan tanah secara berselang-seling. Amat memilukan! Amat menyedihkan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar