Posted by muhamad nurdin fathurrohman
Posted on 7:08:00 AM
Artikel "Usamah Bin Zaid - Jenderal Termuda Jihad Fi Sabilillah" adalah bagian dari seri "Kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW"
Usamah Bin Zaid adalah jenderal termuda yang pernah memimpin
peperangan yang ketika itu masih berusia 18 tahun. Penunjukannya sebagai
Jenderal datang langsung dari
Rasulullah saw. Ia adalah puitra dari
Zaid bin Haritsah.
Usamah lahir tahun ke 7 sebelum hijrah di Mekkah. Kondisi dakwah yang begitu sulit saat itu membuat
Rasullulah saw senantiasa bersabar. Ketika berita kelahiran Usamah sampai wajah
Rasulullah saw langsung berseri.
Usamah bin Zaid adalah anak dari seorang sahabat dan merupakan anak angkat
Rasulullah saw (sebelum Islam masuk dan menghapus hukum anak angkat), yaitu
Zaid bin Haritsah dan Ummu Aiman pengasuh
Rasulullah saw ketika kecil. Dalam suatu riwayat
Rasulullah saw berkata:
"Ummu Aiman adalah ibuku satu - satunya sesudah ibunda yang mulia wafat, dan satu satunya keluargaku yang masih ada". Riwayat lain bahkan mengatakan Ummu Aiman juga pemah menyusui anak
Rasullulah saw.
Adapun
Zaid bin Haritsah adalah sahabat kesayangan
Rasullulah saw dan anak angkat, yang menyebabkan Zaid sempat dipanggil dengan nama Zaid bin
Muhammad, tetapi kemudian dihapus oleh hukum Islam. Dimana nama anak harus dinasabkan kepada orang tua kandungnya. Demikian sayangnya
Rasul saw
kepadanya sehingga Usamah diberi lagab, Al Hibb wa Ibnil Hibb
'Kesayangan (dari) Anak Kesayangan' dan Hibb Rasulillah, Jantung Hati
Rasulullah karena
Rasul saw mencintainya sebagaimana mencintai cucunya, Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Usamah tumbuh sebagai pribadi yang besar; cerdik dan pintar, berani luar
biasa, bijaksana, pandai meletakkan sesuatu pada tempatnya, tahu
menjaga kehormatan, senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan tercela,
pengasih dan (sebaliknya) dikasihi banyak orang, taqwa, wara'
(berhati-hati), dan mencintai Allah SWT.
Usamah Dalam Perang Uhud
Waktu terjadi Perang Uhud, Usamah bin Zaid datang ke hadapan
Rasulullah saw.
beserta serombongan anak-anak sebayanya, putra-putra para sahabat.
Mereka ingin turut jihad fi sabilillah. Sebagian mereka diterima
Rasulullah
dan sebagian lagi ditolak karena usianya masih sangat muda. Usamah bin
Zaid teramasuk kelompok anak-anak yang tidak diterima. Karena itu, Usama
pulang sambil menangis. Dia sangat sedih karena tidak diperkenankan
turut berperang di bawah bendera
Rasulullah.
Usamah Dalam Perang Khandaq
Dalam Perang Khandaq, Usamah bin Zaid datang pula bersama kawan-kawan
remaja, putra para sahabat. Usamah berdiri tegap di hadapan
Rasulullah supaya kelihatan lebih tinggi, agar beliau memperkenankannya turut berperang.
Rasulullah
kasihan melihat Usamah yang keras hati ingin turut berperang. Karena
itu, beliau mengizinkannya, Usamah pergi berperang menyandang pedang,
jihad fi sabilillah. Ketika itu dia baru berusia lima belas tahun.
Usamah Dalam Perang Hunain
Ketika terjadi Perang Hunain, tentara muslimin terdesak sehingga
barisannya menjadi kacau balau. Tetapi, Usamah bin Zaid tetap bertahan
bersama-sama denga ‘
Abbas
(paman Rasulullah), Sufyan bin Harits (anak paman Usamah), dan enam
orang lainnya dari para sahabat yang mulia. Dengah kelompok kecil ini,
Rasulullah
berhasil mengembalikan kekalahan para sahabatnya menjadi kemenangan.
Beliau berhasil menyelematkan kaum muslimin yang lari dari kejaran kaum
musyrikin.
Usamah Dalam Perang Mu’tah
Dalam Perang Mu’tah, Usamah turut berperang di bawah komando ayahnya,
Zaid bin Haritsah.
Ketika itu umurnya kira-kira delapan belas tahun. Usamah menyaksikan
dengan mata kepala sendiri tatkala ayahnya tewas di medan tempur sebagai
syuhada. Tetapi, Usamah tidak takut dan tidak pula mundur. Bahkan, dia
terus bertempur dengan gigih di bawah komando
Ja’far bin Abi Thalib
hingga Ja’far syahid di hadapan matanya pula. Usamah menyerbu di bawah
komando Abdullah bin Rawahah hingga pahlawan ini gugur pula menyusul
kedua sahabatnya yang telah syahid. Kemudian, komando dipegang oleh
Khalid bin Walid.
Usamah bertempur di bawah komando Khalid. Dengan jumlah tentara yang
tinggal sedikit, kaum muslimin akhirnya melepaskan diri dari cengkeraman
tentara Rum.
Seusai peperangan, Usamah kembali ke Madinah dengan menyerahkan kematian
ayahnya kepada Allah SWT. Jasad ayahnya ditinggalkan di bumi Syam
(SYiria) dengan mengenang segala kebaikan almarhum.
Jenderal Termuda
Dengan semua kelebihan Usamah,
Rasul saw
menugaskannya sebagai Jendral Pasukan Kaum Muslimin yang akan
berhadapan dengan Pasukan Romawi. Riwayat menyatakan usia Usamah saat
itu baru 17 tahun. Dalam pasukannya, terdapat nama- nama sahabat besar,
Abu Bakar Shidiq,
Urnar bin Khatab,
Sa'ad bin Abi Waqqas.
Abu Ubaidah bin Jarrah, dan para sahabat senior lainya.
Pengangkatan ini sempat menimbulkan desas desus yang menyebabkan kegusaran
Rasulullah saw. Beliau lalu pergi ke mesjid Nabawi dan berkata:
"Jika
kalian mencemoohkan kepernimpinannya, maka kalian dulu juga
mencemoohkan kepemimpinan ayahnya. Demi Allah. dia layak untuk jabatan
pimpinan. Dan dia adalah orang yang paling aku cintai sesudah ayahnya".
Usamah kemudian berangkat sebagai jendral dan saat itu
Rasul saw
telah wafat. Meski demikian sebagian sahabat Anshar sempat meminta
Usamah diganti karena faktor usia, tetapi Khalifah Islam pertama saat
itu,
Abu Bakar Shidiq tetap berpegang teguh pada keputusan
Rasulullah saw. Bahkan
Umar bin Khatab selaku utusan para sahabat mendapatkan kemarahan
Abu Bakar atas usulan tersebut.
Kemenangan Usamah
Usamah dan pasukannya terus bergerak dengan cepat meninggalkan Madinah.
Setelah melewati beberapa daearah yang masih tetap memeluk Islam,
akhirnya mereka tiba di Wadilqura. Usamah mengutus seorang mata-mata
dari suku Hani Adzrah bernama Huraits. Ia maju meninggalkan pasukan
hingga tiba di Ubna, tempat yang mereka tuju. Setelah berhasil
mendapatkan berita tentang keadaan daerah itu, dengan cepat ia kembali
menemui Usamah. Huraits menyampaikan informasi bahwa penduduk Ubna belum
mengetahui kedatangan mereka dan tidak bersiap-siap. Ia mengusulkan
agar pasukan secepatnya bergerak untuk melancarkan serangan sebelum
mereka mempersiapkan diri. Usamah setuju. Dengan cepat mereka bergerak.
Seperti yang direncanakan, pasukan Usamah berhasil mengalahkan lawannya.
Hanya selama empat puluh hari, kemudian mereka kembali ke Madinah
dengan sejumlah harta rampasan perang yang besar, dan tanpa jatuh korban
seorang pun.
Perkataan
Rasulullah saw
terbukti, ditangan Usamah pasukan Islam mampu mengalahkan pasukan
Romawi. Bahkan pasukan Usamah membawa kemenangan yang gemilang melebihi
perkiraan semua orang. Sampai para sahabat berkata: "belum pernah
terjadi suatu pasukan bertempur kembali dari medan tempur dengan selamat
dan utuh (tanpa satu korban pun)".
Setelah menjalani hidupnya bersama para sahabat, Usamah bin Zaid wafat
tahun 53 H / 673 M pada masa pemerintahan khalifah Mu’awiyah.